• Home
  • Kontak Kami
  • Profil Komunitas
  • Testimoni Pembaca
Belitong Literasi
Advertisement
  • Beranda
  • Profil Komunitas
  • Karya Fiksi
  • Karya Nonfiksi
  • Kamus Belitong
  • Literasi Bahasa Belitong
  • Berita & Lainnya
  • Etalase Penulis
  • Wajah Inspiratif
  • Apa Kata Mereka?
  • Kontak & Donasi
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil Komunitas
  • Karya Fiksi
  • Karya Nonfiksi
  • Kamus Belitong
  • Literasi Bahasa Belitong
  • Berita & Lainnya
  • Etalase Penulis
  • Wajah Inspiratif
  • Apa Kata Mereka?
  • Kontak & Donasi
No Result
View All Result
Belitong Literasi
No Result
View All Result
Home Karya Nonfiksi

Anak Adalah Cermin Rumahnya

Belitong Literasi by Belitong Literasi
2 Agustus 2026
in Karya Nonfiksi
0
Anak Adalah Cermin Rumahnya
0
SHARES
39
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Oleh: Zifara Safa A. – Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 7 SMAN 1 Manggar

Editor: Ares Faujian

Anak adalah individu yang unik dan bukanlah miniatur orang dewasa. Anak membutuhkan perhatian yang khusus untuk perkembangan tubuhnya.

Peran orang tua penting bagi anak. Pada prinsipnya pola asuh, yakni bagaimana orang tua mengontrol, membimbing dan mendampingi anak-anaknya, seperti melaksanakan tugas perkembangannya menuju kedewasaan. Perkembangan berkaitan dengan perubahan kualitatif dan kuantitatif, yang bersifat progresif, teratur dan koheren.

Seorang anak merupakan harapan orang tua sebagai penerus dan sesuai dengan tumpuan masa depan bangsa. Untuk mendapatkan anak-anak yang cerdas dan sesuai perkembangannya, memerlukan kebutuhan fisik, psikologis, sosial dan spiritualnya. Oleh karena itu, anak perlu membutuhkan perhatian.

World Health Organization (WHO) memperkirakan jumlah balita usia toddler yang ada di dunia adalah 11,7% dari populasi penduduk dunia dan sekitar 13,7% dari populasi balita mengalami masalah dalam perkembangan motorik. Selanjutnya, berdasarkan data Kementerian Kesehatan tahun 2020, jumlah balita usia toddler di Indonesia sebanyak 18.913.420 (Kementrian Kesehatan, 2020). Pada tahun 2017, Depkes RI melakukan skrining perkembangan di 33 provinsi di Indonesia dan dilaporkan 45,12% bayi mengalami gangguan perkembangan. Hal ini diperkirakan oleh rendahnya tingkat pengetahuan orang tua tentang stimulasi dini.

Karakter anak yang beragam macamnya itu sendiri terbentuk dari cara orang tua mengasuh dan mendidik anaknya. Adapun terkadang pendidikan terjadi sebab adanya campur bimbingan dari orang lain. Hal tersebut menunjukkan bahwa karakter kehidupan tempat anak tumbuh sangat memengaruhi anak itu sendiri. Terutama lingkungan keluarga yang merupakan wadah pendidikan awal dan utama bagi seorang anak.

Setelah lingkungan keluarga, anak akan masuk ke lingkungan sekolah, di mana anak akan bergabung ke dalam bagian kelompok sosial dan akan merasa bahwa pendapat dari teman-temannya lebih penting. Beriringnya waktu, anak akan merasakan tekanan sosial dari temannya, hingga membuatnya memiliki perilaku pembohong maupun perilaku buruk lainnya.

Thomas Lickona (2016: 48) mengatakan bahwa secara umum orang-orang memandang keluarga merupakan sumber pendidikan moral yang paling utama bagi anak-anak. Mereka adalah guru pertama dalam mendidik moral. Hubungan antara orang tua dan anak dipengaruhi dengan berbagai perbedaan khusus dalam hal emosi, yang menyebabkan anak merasakan dicintai dan dihargai atau sebaliknya (Lickona, 2016: 48).

Menurut Montesori (2012: 3), usia anak adalah usia kritis atau usia sensitif karena pada saat-saat itu potensi atau kemampuan mereka sedang mengalami perkembangan yang begitu pesat, maka mereka harus memiliki isi pelajaran, pendidikan, dan tenaga profesional yang berkualitas.

Selain itu, usia anak-anak disebut sebagai usia emas, yaitu periode awal yang paling penting dan mendasar sepanjang rentang pertumbuhan dan perkembangan manusia, karena pada usia ini mereka memiliki potensi yang dapat berkembang secara pesat (Meriyati, 2016: 49).

Penulis sendiri pernah dijadikan miniatur dari orang tua, diperlakukan beda dari adik-adik. Kebiasaan seperti itu bisa berdampak negatif pada karakter anak. Akan tetapi di balik itu ada orang tua yang lalai dalam mengontrol, membimbing pada anaknya. Orang tua yang seharusnya menjadi tempat pendidikan yang baik dan rumah yang nyaman, berubah menjadi kebalikannya.

Kebiasaan orang tua seperti itu bisa menimbulkan sifat negatif dan tidak nyaman pada anak. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran memperlakukan anak dengan adil dan kasih sayang yang adil pula, mendukung anak, membangun komunikasi yang baik pada anak. Maka dari itu, kesadaran demi menciptakan karakter anak yang baik dan rasa nyaman itu vital.

Anak merupakan individu yang unik dan memerlukan perhatian khusus dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya. Peran orang tua sangat penting dalam membimbing, mendidik, serta membentuk karakter anak melalui pola asuh yang baik. Lingkungan keluarga menjadi tempat pendidikan pertama yang sangat memengaruhi perilaku dan perkembangan moral anak. Kurangnya perhatian, kasih sayang, dan bimbingan dapat menimbulkan dampak negatif pada perkembangan karakter anak.

Oleh karena itu, orang tua perlu memberikan kasih sayang yang adil, membangun komunikasi yang baik. Selain itu, termasuk juga menciptakan lingkungan rumah yang nyaman agar anak dapat tumbuh menjadi pribadi yang baik, percaya diri dan berkembang secara optimal.

Tags: Kelas SosioliterasiNonfiksiSMAN 1 ManggarZifara Safa A.
Previous Post

Kekasihku Hanya dalam Mimpiku

Next Post

Kehidupan

Belitong Literasi

Belitong Literasi

Komunitas Belitong Literasi merupakan wadah kolaboratif yang bergerak dalam pengembangan karya literasi serta pelestarian bahasa, sastra, dan budaya Belitong. Komunitas ini hadir untuk mendorong tumbuhnya ekosistem literasi yang kreatif dan berkelanjutan melalui kegiatan edukasi, publikasi, dokumentasi, dan penguatan identitas budaya lokal.

Next Post
Kehidupan

Kehidupan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected test

  • 24k Followers
  • 99 Subscribers
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Air Mata Laskar Pelangi

Air Mata Laskar Pelangi

27 Juni 2026
Asap yang Tak Terlihat Dampaknya

Asap yang Tak Terlihat Dampaknya

11 Juli 2026
Merawat Nurani di Sekolah Kejuruan: Sebuah Catatan Guru di Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh Tahun 2026

Merawat Nurani di Sekolah Kejuruan: Sebuah Catatan Guru di Pertemuan Penyair Nusantara XIV Aceh Tahun 2026

5 Juli 2026
Belitung Timur dan Krisis Ikon Budaya

Belitung Timur dan Krisis Ikon Budaya

15 Agustus 2026
Belitung Timur dan Krisis Ikon Budaya

Belitung Timur dan Krisis Ikon Budaya

4
Asmaraloka

Asmaraloka

1
An Inspiring Story of Ibu Muslimah: Guru yang Menyalakan Mimpi

An Inspiring Story of Ibu Muslimah: Guru yang Menyalakan Mimpi

1
Dul Mulok Belitong

Dul Mulok Belitong

1
Kompas Negeri Laskar Pelangi

Kompas Negeri Laskar Pelangi

30 Agustus 2026
Halaman Baru Apam

Halaman Baru Apam

30 Agustus 2026
Rembulan Rindu

Rembulan Rindu

29 Agustus 2026
Ayah

Ayah

29 Agustus 2026

Recent News

Kompas Negeri Laskar Pelangi

Kompas Negeri Laskar Pelangi

30 Agustus 2026
Halaman Baru Apam

Halaman Baru Apam

30 Agustus 2026
Rembulan Rindu

Rembulan Rindu

29 Agustus 2026
Ayah

Ayah

29 Agustus 2026

Copyright ©️ 2026 belitongliterasi.com. All Rights Reserved. powered by Jasa Pembuatan Website Cirebon

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Profil Komunitas
  • Karya Fiksi
  • Karya Nonfiksi
  • Kamus Belitong
  • Literasi Bahasa Belitong
  • Berita & Lainnya
  • Etalase Penulis
  • Wajah Inspiratif
  • Apa Kata Mereka?
  • Kontak & Donasi

Copyright ©️ 2026 belitongliterasi.com. All Rights Reserved. powered by Jasa Pembuatan Website Cirebon