Mengenal Destinasi Wisata dan Geopark Pulau Belitung
Oleh: Ares Faujian
Kapan terakhir kali sebuah buku membuat Anda ingin segera memasukkan pakaian ke dalam tas, mencari tiket, lalu berangkat? Jika jawabannya “sudah lama sekali”, mungkin Anda belum membaca Kompas Negeri Laskar Pelangi:
Buku ini bukan sekadar panduan perjalanan. Ia adalah ajakan untuk mengenal Belitung lebih dekat, bukan hanya melalui pantai dan foto-foto indah, tetapi juga melalui sejarah, budaya, kuliner, masyarakat, dan kekayaan geopark-nya. Penulis memang sejak awal menempatkan buku ini sebagai “kompas” bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Negeri Laskar Pelangi. Isinya mencakup persiapan perjalanan, pengenalan Belitong, destinasi ikonik, Geopark Belitong, kuliner, suvenir, hingga informasi pendukung wisata.
Yang menarik, buku ini tidak menulis seperti pemandu wisata yang kaku. Bahasa yang digunakan ringan, akrab, dan sesekali “menggoda” pembaca. Tak heran, salah satu testimoni dalam buku menyebut narasinya mampu membuat pembaca seolah-olah sedang diajak berkeliling Belitong dan terdorong untuk datang langsung.
Bayangkan berdiri di Pantai Tanjung Tinggi, di antara batu-batu granit raksasa dan air laut yang jernih, di mana lokasi yang ikut menjadi bagian dari kisah fenomenal Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi. Buku ini tidak berhenti pada “lihatlah betapa indahnya”, tetapi memberi konteks, tips, dan alasan mengapa tempat itu layak dikunjungi.
Lalu ada Museum Kata “Andrea Hirata”, Replika SD Laskar Pelangi, Dermaga Kirana, Manggar yang dikenal sebagai “Kota 1001 Warung Kopi”, hingga berbagai pantai dan destinasi lain. Replika SD Laskar Pelangi, misalnya, bukan sekadar bangunan wisata. Ia menjadi ruang untuk menapak tilas kisah perjuangan anak-anak kampung yang bermimpi dan kemudian berhasil.
Lebih jauh, buku ini mengajak kita melihat Belitong dengan kacamata yang berbeda. Geopark bukan semata-mata tentang batu dan bentang alam. Di dalamnya bertemu geologi, keanekaragaman hayati, sejarah, budaya, pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Filosofinya bahkan dirangkum dalam gagasan:
“Memuliakan Bumi, Menyejahterakan Masyarakat.”
Di sinilah kekuatan Kompas Negeri Laskar Pelangi. Buku ini menjadikan perjalanan bukan sekadar perpindahan dari satu tempat ke tempat lain, melainkan proses mengenal sebuah negeri secara utuh.
Jadi, jangan hanya puas mengenal Belitung dari novel, film, atau unggahan media sosial. Buka bukunya. Ikuti kompasnya. Kenali ceritanya. Lalu, kalau hati sudah terlanjur terpikat, bersiaplah untuk membuktikannya sendiri, apakah benar sekali minum air Belitong, kita akan ingin kembali?
Kompas Negeri Laskar Pelangi mungkin hanya sebuah buku. Tetapi setelah membacanya, sangat mungkin tas perjalanan Anda yang mulai terasa terlalu kecil.
Jika ingin memiliki buku ini, silakan kontak penulisnya melalui media sosial Instagram @faujian_ares.

Kover Buku Kompas Negeri Laskar Pelangi Karya Ares Faujian
Sumber: Pustaka MediaGuru, 2019
Profil Komunitas












