Oleh: Ares Faujian – Sekretaris Asosiasi Guru Penulis PGRI Kab. Belitung Timur, Ketua MGMP Sosiologi Kab. Belitung Timur & Pengurus Pusat Asosiasi Profesi Pendidik dan Peneliti Sosiologi Indonesia (AP3SI)
Kabupaten Belitung Timur memiliki modal pariwisata yang tidak sedikit. Pantai, bentang alam, sejarah pertambangan, tradisi masyarakat Melayu, hingga jejak Laskar Pelangi telah menjadi bagian dari narasi daerah. Namun, ada satu pekerjaan rumah yang patut direnungkan; apa simbol budaya yang ketika orang melihatnya langsung teringat pada Belitung Timur?
Pertanyaan ini penting karena daerah tidak cukup hanya memiliki budaya. Budaya harus dikenali, dirawat, dipelajari, ditampilkan, dan pada akhirnya menjadi bagian dari identitas publik.
Belitung Timur sesungguhnya bukan daerah yang miskin budaya. Pemerintah daerah mencatat sejumlah kekayaan budaya seperti rudat, sepen, hadrah ma’indi, becampak, antu bubu, lesong ketintong, serta berbagai tradisi lainnya. Bahkan beberapa tarian, seperti sepen penyok telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia (WBTb) pada 2016 berdasarkan Salinan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 244/P/2016 tentang Penetapan Warisan Budaya Takbenda Indonesia Tahun 2016, serta WBTb lainnya.
Persoalannya bukan ketiadaan budaya yang menghantui Belitung Timur. Melainkan belum kuatnya satu atau beberapa representasi budaya yang dikonsolidasikan menjadi ikon visual daerah. Ikon budaya berfungsi sebagai simbol yang membentuk citra luar suatu wilayah sekaligus memperkuat ikatan emosional warganya terhadap daerah tersebut (Šifta & Chromý, 2017; Chernyshov et al., 2023).
Di sinilah Kabupaten Belitung Timur dapat belajar dari Kabupaten Belitung. Pada 2024, Pemerintah Kabupaten Belitung mendorong pemasangan payung lilin di kantor pemerintah, sekolah, lembaga, perbankan, hingga ruang publik sebagai upaya memperkuat identitas budaya Melayu (Apriliansyah, 2024).
Payung lilin menarik karena bukan benda yang tiba-tiba diciptakan untuk kepentingan promosi. Ia memiliki akar dalam adat perkawinan Belitung. Dalam tradisi masa lalu, payung lilin digunakan pada malam hari untuk mengarak calon pengantin laki-laki menuju rumah calon pengantin perempuan. Lilin di dalam payung bukan sekadar penerangan, tetapi juga memiliki makna simbolik tentang penerang kehidupan dan harapan. (Elvanadi, 2024)
Dengan strategi visualisasi tersebut, budaya tidak lagi hanya hidup dalam buku sejarah atau acara seremonial. Ia masuk ke ruang sehari-hari. Anak sekolah melihatnya. Pegawai pemerintah melihatnya. Masyarakat melihatnya. Wisatawan memotretnya. Pelaku ekonomi kreatif kemudian dapat mengolahnya menjadi berbagai produk dan pengalaman wisata.
Bahkan, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa payung lilin mulai dikembangkan sebagai daya tarik pariwisata. Festival Payung Lilin 2025 di Belitung melibatkan puluhan UMKM, pertunjukan budaya, wisatawan mancanegara, serta agenda promosi pariwisata. Pemerintah daerah juga mendorong pengembangan instalasi payung lilin permanen di sejumlah titik.
Artinya, sebuah simbol budaya dapat bergerak dari tradisi, identitas, ruang publik, kreativitas, pariwisata, hingga ekonomi masyarakat. Simbol daerah seperti ini memainkan peran penting dalam pembentukan identitas regional, baik secara eksternal maupun internal bagi hubungan warga dengan wilayahnya (Šifta & Chromý, 2017). Lantas, bagaimana dengan Belitung Timur?
Belitung Timur sebenarnya telah memiliki arah rencana, aksi dan kebijakan yang tepat. Karena Dinas Kebudayaan dan Pariwisatanya berusaha menjadikan Belitung Timur sebagai destinasi wisata berbasis budaya lokal dengan kekuatan keindahan alamnya. Namun, rencana dan aksi juga harus diterjemahkan menjadi pengalaman budaya yang dapat dilihat dan dirasakan masyarakat.
Di sinilah sekolah memiliki posisi strategis. Jangan sampai pelajar Belitung Timur mengenal budaya daerah hanya ketika mengikuti lomba tari dan festival tertentu. Mereka perlu mengetahui dari pelajaran dan edukasi konsisten di sekolah mengenai; apa budaya daerahnya, apa maknanya, siapa pewarisnya, mengapa harus dilestarikan, dan bagaimana budaya tersebut dapat menjadi kekuatan ekonomi tanpa kehilangan martabatnya.
Pertanyaan yang lebih kritis kemudian muncul; apakah masyarakat dan pelajar Belitung Timur sudah benar-benar memiliki pengetahuan budaya yang cukup untuk menjadi duta identitas daerahnya?
Jawabannya tidak boleh hanya berdasarkan asumsi. Pemerintah daerah bersama sekolah, lembaga adat, perguruan tinggi, komunitas dan pihak-pihak relevan lainnya perlu melakukan pemetaan pengetahuan budaya generasi muda. Survei sederhana dapat mengukur seberapa banyak pelajar mengenali sejarah, tradisi, kesenian, kuliner, simbol, tokoh, dan nilai-nilai budaya di Belitung Timur.
Dari sana, pemerintah dapat menentukan budaya mana yang paling potensial menjadi ikon. Partisipasi warga dalam kegiatan budaya memperkuat kohesi sosial dan kebanggaan komunitas (Cerisola & Panzera, 2022; Aydın & Yuce, 2025).
Ikon tersebut tidak harus berupa benda. Bisa berupa kesenian, tradisi, motif, kuliner, figur simbolik, atau gabungan beberapa unsur budaya. Yang terpenting adalah autentik, mudah dikenali, memiliki cerita kuat, dapat divisualisasikan, dan memungkinkan masyarakat ikut memperoleh manfaat ekonominya.
Karena itu, Kabupaten Belitung Timur tidak perlu sekadar meniru payung lilin di Kabupaten Belitung. Bahkan, terlalu jauh meniru justru dapat mengaburkan identitas masing-masing. Yang diperlukan adalah solidaritas budaya, bukan keseragaman budaya.
Kesamaan tertentu tetap mungkin dan justru indah. Pakaian teluk belange berwarna ungu, misalnya, dapat menjadi salah satu ekspresi solidaritas kultural Pulau Belitung. Tetapi solidaritas tidak berarti semua daerah harus memiliki simbol yang sama. Belitung Timur tetap membutuhkan karakter yang membedakannya.
Mungkin suatu hari orang melihat sebuah simbol dan berkata, “Ini Belitung Timur!” Itulah titik yang perlu dikejar. Bukan sekadar memasang ornamen di depan kantor atau sekolah, tetapi membangun kesadaran bahwa budaya adalah cara sebuah daerah memperkenalkan dirinya kepada dunia.
Belitung Timur memiliki alam yang indah. Namun wisatawan tidak hanya mencari pemandangan. Mereka mencari cerita, pengalaman, manusia, tradisi, rasa, dan identitas. Karena itu, pekerjaan besar Belitung Timur ke depan bukan hanya menjual keindahan alam, tetapi membuat alam tersebut memiliki cerita budaya yang kuat.
Sebab daerah yang kuat dalam pariwisata bukan hanya daerah yang indah untuk difoto, melainkan daerah yang setelah dikunjungi membuat orang pulang membawa satu kesan yang sulit dilupakan; “Saya pernah ke Belitung Timur, dan saya tahu apa yang membuatnya berbeda.”
Jadi, ikon budaya apa yang akan kita saksikan nantinya di depan sekolah-sekolah, kantor-kantor, serta ruang publik di Belitung Timur? Semoga dahaga ini terjawab dengan tegukan aksi nyata.

Menjemput Ikon Budaya Belitung Timur
Sumber: Visualisasi Gemini, 2026
Referensi:
- Apriliansyah. (2024, May 11). Pj Bupati Belitung instruksikan pemasangan “Payung Lilin” perkuat identitas Melayu. Antara News. https://babel.antaranews.com/berita/408024/pj-bupati-belitung-instruksikan-pemasangan-payung-lilin-perkuat-identitas-melayu
- Aydın, E. D., & Yuce, A. (2025). The Role of Cultural Heritage in Sustainable Tourism Development: The Case of Istanbul Kalkhedon Region. GEOGRAPHIES, PLANNING AND TOURISM STUDIOS. https://doi.org/10.5505/gpts.2025.29484
- Cerisola, S., & Panzera, E. (2022). Cultural participation in Cultural and Creative Cities: Positive regional outcomes and potential congestion concerns. Papers in Regional Science. https://doi.org/10.1111/pirs.12709
- Chernyshov, Y. G., Derendyaeva, A., Isakova, S. N., & Ulyanov, P. V. (2023). Ivan Polzunov and Grigory Choros-Gurkin as Significant Figures for the Image of the Region in the History of Altai. Bylye Gody. https://doi.org/10.13187/bg.2023.1.64
- Elvanadi. (2024, July 19). Makna Payung Lilin Sebagai Warisan Budaya Leluhur, Adat Istiadat Pulau Belitung. Era Baru Media. https://www.erabarumedia.id/khazanah/214879617/makna-payung-lilin-sebagai-warisan-budaya-leluhur-adat-istiadat-pulau-belitung
- Šifta, M., & Chromý, P. (2017). The importance of symbols in the region formation process. Norsk Geografisk Tidsskrift – Norwegian Journal of Geography, 71, 113 – 98. https://doi.org/10.1080/00291951.2017.1317285
Profil Komunitas














Tulisan ini kena sekali. Kita sebenarnya kaya budaya, cuma memang belum ada satu ikon yang langsung bikin orang bilang, “Oh, ini Belitung Timur!” Semoga bukan cuma jadi wacana, tapi benar-benar ada aksi dari kita semua.
Terima kasih atas komentarnya. Semoga segera terealisasi berkenaan ikon budaya Belitung Timur ini. Aamiin.
Kekayaan lokal, warisan yang perlu di lestarikan jangan sampai punah ditelan zaman. Belitung Timur menyimpan banyak kekayaan kita harus menyadarinya, tak ingin kebanggaan itu pergi dan menghilang.
Terima kasih atas komentarnya. Semoga segera negeri yang kaya akan kekayaan lokal ini mampu menemukan ikonnya. Aamiin.