Ketika Nalar Kritis Remaja Direnggut oleh Konten Brainrot
Oleh: Khaerunissa – Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 7 SMAN 1 Manggar
Editor: Ares Faujian
Di zaman ini, teknologi sudah semakin canggih, bahkan bisa kita manfaatkan untuk berbagai hal. Misalnya, membuat tugas, menyelesaikan pekerjaan bahkan membuat konten edukasi maupun hiburan.
Berbagai konten bertebaran di media sosial, apalagi di kalangan remaja yang selalu scrolling media sosial. Ironisnya, pemanfaatan AI (Akal Imitasi) yang seharusnya memproduksi produk atau konten yang bermanfaat dan bernilai, justru sebagian besar menghasilkan konten absurd (tidak masuk akan/ konyol) dan nir-makna.
Data dari Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2024 menemukan bahwa mayoritas penduduk Indonesia 85,29% memanfaatkan internet untuk hiburan dengan kelompok remaja yang mendominasi penggunaan internet. Hal tersebut dibuktikan pada hasil riset profil internet yang menunjukkan tingkat penetrasi internet di Indonesia mencapai 80,66%.
Penggunaan internet ini membuat adanya peluang tingginya paparan konten brainrot hasil generatif oleh AI pada kalangan remaja. Ihwal ini diperparah lagi rata-rata durasi screen time harian pada anak dan remaja di Indonesia melampaui 7,5 jam. Banyak orang tua juga sudah mulai keluhkan permasalahan ini. Anak-anak mereka perlahan terpapar dan terkena dampak negatif dari konten hiburan AI ini.
Media massa juga turut menyuarakan terkait kekhawatiran munculnya “brainrot fever”, yaitu kondisi remaja terobsesi pada tayangan yang tidak masuk akal dan di mata mereka konten seperti itu menghibur dan menyenangkan. Kondisi remaja yang terjebak dalam candu hiburan kosong ini sejalan dengan pandangan dari industri budaya, yang menjelaskan bahwa media massa modern cenderung memproduksi hiburan standar secara massal bukan untuk mencerdaskan, melainkan untuk mencipatakan kepatuhan psikologis dan kepasifan berpikir di kalangan konsumennya (Yüksel, 2018).
Brainrot diartikan dari berbagai media sebagai fenomena kelelahan kognitif dan penurunan fungsi eksekutif otak pada remaja yang disebabkan oleh konsumsi media digital berlebihan. Informasi yang penulis rangkum dari berbagai media, konten yang memicu brainrot umumnya memiliki karakteristik bertempo sangat cepat, berbasis algoritma adiktif, dan minim stimulasi intelektual, sehingga menyebabkan penurunan rentang perhatian dan kemampuan berpikir kritis.
Devinta Puspita Ratri (2024), seorang pakar sosiologi dari Universitas Brawijaya juga mengemukakan bahwa ketergantungan remaja pada gempuran konten AI yang diproduksi secara massal (content farm) menumbuhkan budaya berpikir yang instan dan dangkal. Remaja mulai berpikir secara logis dan mandiri karena pola pikir mereka dikondisikan untuk mengidolakan hal-hal yang viral tanpa memperdulikan nilai edukasi.
Menurut penulis, terdapat beberapa faktor yang menyebabkan para remaja tertarik untuk mengkonsumsi konten brainrot ini, mulai dari karakter hewan, buah maupun benda mati yang digeneratif menjadi karakter hingga animasi yang unik dan menarik kalangan remaja. Alurnya yang lucu dan absurd bagi mereka membuat para remaja semakin tertarik. Ditambah lagi, konten tersebut yang ditonton berulang kali membuat algoritma beranda menampilkan konten yang serupa.
Setelah mengalami dan memperhatikan fenomena ini, penulis menarik terdapat beberapa dampak yang diterima oleh para remaja dari mengkonsumsi konten brainrot yang dangkal, absurd dan tidak bermutu ialah pertama, membuat para remaja kecanduan gawai yang bisa merambat juga ke pola hidup mereka. Misalnya, pola makan yang tergangu karena terus-menerus menunda makan, bahkan lupa makan karena sibuk dengan gadget mereka. Dampak pertama itu saja sudah cukup parah karena menganggu pola hidup dan kesehatan mereka.
Dampak kedua menjadi dampak yang parah dan krusial juga, yaitu menimbulkan brainrot pada individu dan memicu pengikisan nalar kritis pada remaja. Mengapa dampak kedua menjadi dampak yang krusial? Karena jika seluruh remaja cara berpikirnya sudah tidak kritis lagi dan berpikir dangkal, bagaimana kita bisa mewujudkan Indonesia Emas 2045? Sedangkan untuk menciptakan generasi emas tentunya salah satu yang diperlukan ialah bernalar kritis.
Setelah mengamati permasalahan ini, diperlukan langkah yang solutif dan aksi nyata. Dalam hal ini, penulis menawarkan solusi yaitu dengan mengedukasikan kepada remaja untuk membatasi screen time individu juga membatasi diri dari AI. Tidak melarang untuk menggunakan AI, tapi jumlah porsi yang digunakan harus dibatasi.
Selanjutnya, setiap individu harus menyaring konten apa yang mereka tonton. Jika konten yang mereka tonton sudah menunjukkan tanda-tanda konten yang negatif, maka harus segera dilewatkan (skip).
Pembatasan diri dari konten brainrot membantu kita dari kehilangan cara kita berpikir kritis. Inilah mengapa pengontrolan diri sangat diperlukan pada setiap individu pada kalangan remaja. Dengan kita bisa mengontrol diri, maka kita sudah bisa menjaga diri kita dan juga keturunan kita kelak.
Dapat kita simpulkan, bahwa fenomena brainrot ini bukanlah sebuah lelucon yang bisa kita anggap sepele. Ekosistem digital yang dipenuhi oleh content farm berbasis AI secara nyata telah menjadi penyakit yang merusak fungsi kognitif dan melemahkan daya konsentrasi para remaja. Hilangnya kemampuan untuk berpikir kritis ini merupakan sebuah bukti nyata bagaimana remaja era sekarang, berpotensi besar terjebak di dalam ruang fantasi absurd.
Oleh karena itu, mari kita jadikan momentum pada tulisan ini untuk merebut kembali kendali penuh atas pikiran dan nalar sehat kita. Teknologi seperti AI seharusnya lahir sebagai alat yang mencerdaskan dan meluaskan cara kita berpikir, bukan justru memperbodoh dan mengikis kemanusiaan kita.
Harapan besar tertumpu pada remaja Indonesia agar mampu berdiri tegak dalam mewujudkan generasi emas dan remaja yang bernalar kritis. Semoga.

Ilustrasi Ketika Nalar Kritis Remaja Direnggut oleh Konten Brainrot
Sumber: Visualisasi Gemini, 2026
Profil Komunitas













