Oleh: Ibni Awaliah – Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 7 SMAN 1 Manggar
Editor: Ares Faujian
Media sosial sudah jadi bagian vital dari kehidupan remaja. Sebagian remaja merasa harus selalu mengikuti tren, pergaulan, atau aktivitas yang sedang viral di media sosial agar tidak dianggap tertinggal dari teman-teman sebayanya. Perasaan takut tertinggal inilah yang disebut para ahli dengan FOMO (Fear of Missing Out).
Tanpa disadari, FOMO membuat sebagian remaja sering membandingkan dirinya dengan orang lain di media sosial, hingga muncul rasa insecure (tidak aman) dan kurang percaya diri. Masalah ini penting untuk dibahas, karena FOMO dapat memengaruhi cara remaja melihat dan menghargai dirinya sendiri.
Dilansir dari halodoc.com, FOMO artinya menggambarkan ketakutan melewatkan momen, pengalaman, atau aktivitas yang sedang terjadi atau populer di lingkungannya. Sementara menurut Franchina (2018), Fear of Missing Out ini mengacu pada perasaan takut bahwa seseorang mungkin kehilangan pengalaman penting yang dimiliki orang lain.
Media sosial sekarang sudah amat mendarah daging dengan kehidupan modern, termasuk pada remaja. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, pengguna internet di Indonesia tahun 2025 mencapai lebih dari 229 juta orang dan penggunaan media sosial menjadi salah satu aktivitas yang paling sering digunakan. Akibatnya, ini jadi pemantik sebagian remaja mulai mudah membandingkan hidupnya dengan orang lain di Internet.
Di Indonesia, sering ditemukan remaja yang merasa malu karena tidak mengikuti tren, tidak punya barang yang sedang viral, atau merasa penampilannya kalah dari orang lain di media sosial. Bahkan, ada juga yang memaksakan diri ikut tren hanya supaya tidak dianggap ketinggalan dalam pergaulan. Lama-Kelamaan, hal seperti ini membuat sebagian remaja menjadi minder dan kehilangan rasa percaya diri.
FOMO tidak muncul begitu saja. Semua berawal dari kebiasaan remaja yang terlalu sering melihat kehidupan orang lain di media sosial. Setiap hari mereka disuguhi foto liburan, pencapaian, gaya hidup, hingga penampilan yang terlihat sempurna.
Tanpa sadar, muncul rasa ingin memiliki hidup seperti orang lain. Ditambah lagi dengan lingkungan pergaulan yang selalu mengikuti tren, yang akhirnya mereka merasa harus ikut agar tidak dianggap ketinggalan (FOMO). Rasa takut tidak diterima, keinginan untuk diakui, dan kebiasaan membandingkan diri membuat kepercayaan diri perlahan menurun.
Di balik ramainya tren dan kehidupan ‘sempurna’ di media sosial, sebagian remaja diam-diam merasa lelah dengan dirinya sendiri. FOMO membuat mereka terus merasa kurang, seolah selalu ada hal yang harus dikejar agar bisa dianggap dan diterima dalam pergaulan.
Akibatnya, rasa percaya diri perlahan berubah menjadi rasa minder, karena terlalu sering membandingkan hidup dengan orang lain. Para remaja kategori ini akhirnya lebih sibuk memenuhi ekspektasi media sosial daripada mengenali kelebihan dirinya sendiri. Jika terus berlangsung, FOMO dapat membuat remaja kehilangan jati diri dan sulit merasa cukup dengan apa yang dimilikinya.
Salah satu cara mengatasi FOMO pada remaja adalah dengan membatasi penggunaan media sosial dan tidak terlalu sering membandingkan diri dengan kehidupan orang lain di internet. Remaja perlu memahami bahwa apa yang terlihat di media sosial tidak selalu sesuai dengan kenyataan. Daripada sibuk mengikuti standar orang lain, lebih baik mulai fokus pada kemampuan dan kelebihan diri sendiri agar rasa percaya diri dapat tumbuh dengan baik.
Selain itu, dukungan dari lingkungan sekitar juga sangat penting. Orang tua, teman, dan sekolah dapat membantu remaja membangun rasa percaya diri melalui kegiatan positif, seperti mengembangkan hobi, belajar hal baru, atau mengikuti aktivitas sosial. Dengan begitu, remaja tidak akan terus merasa harus mengikuti tren hanya untuk mendapat pengakuan dari orang lain.
FOMO bukan tentang siapa yang paling tertinggal, tetapi tentang siapa yang terlalu sibuk melihat hidup orang lain sampai lupa menghargai dirinya sendiri. Media sosial memang bisa menjadi tempat hiburan dan informasi, tetapi jika digunakan tanpa batas, hal itu dapat mengubah rasa percaya diri menjadi rasa insecure. Karena itu, penting bagi remaja untuk lebih percaya pada dirinya sendiri daripada sibuk mengejar pengakuan dari orang lain.
Melalui pembahasan ini, diharapkan para remaja dapat lebih bijak menggunakan media sosial dan tidak lagi menjadikan kehidupan orang lain sebagai standar kebahagiaan. Semoga remaja masa kini mampu tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri, menghargai dirinya sendiri, dan tidak takut menjadi berbeda. Karena setiap orang memiliki proses, kelebihan, dan jalan hidupnya masing-masing.

Ilustrasi Perbandingan Kehidupan Remaja dengan Ada dan Tak Adanya FOMO
Sumber: Visualisasi Gemini, 2026
Profil Komunitas













