Oleh: Richarda Wijaya – Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 6 SMAN 1 Manggar
Editor: Ares Faujian
Siapa yang tak tau tentang sosok “Ayah”? Ia berperan penting dalam perkembangan psikologis anak yang berdampak pada pembentukan identitas, regulasi emosi, dan perkembangan sosial.
Masa golden age, yaitu usia 0–6 tahun, merupakan periode kritis ketika anak mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik secara fisik, kognitif, maupun emosional (Santrock, 2019). Pada masa inilah kehadiran sosok ayah memiliki peran yang besar dalam membentuk karakter dan perkembangan emosional anak.
Namun, dalam realitas sosial saat ini, tidak semua anak memiliki kesempatan untuk tumbuh bersama figur ayah. Fenomena tersebut umum dikenal di era sekarang dengan istilah fatherless. Isu ini menjadi perhatian karena berbagai penelitian menunjukkan bahwa Indonesia termasuk negara dengan tak lepas dari kondisi fatherless. Lalu, apa sebenarnya fatherless itu?
Fatherless didefinisikan sebagai kondisi ketika seorang anak tumbuh tanpa kehadiran atau keterlibatan ayah dalam kehidupannya, baik secara fisik, emosional, maupun spiritual. Menurut Bradley (2016, p. 234), fatherless merupakan ketidakhadiran ayah dalam kehidupan anak yang menyebabkan berkurangnya fungsi pengasuhan dan dukungan yang seharusnya diterima anak. Oleh karena itu, fenomena ini tidak dapat dianggap sebagai masalah sepele karena setiap proses pertumbuhan dan perkembangan anak membutuhkan peran kedua orang tua.
Berdasarkan data UNICEF tahun 2021, sekitar 20,9% anak di Indonesia tumbuh tanpa kehadiran peran ayah dalam kehidupannya. Dari total 30,83 juta anak usia dini di Indonesia, sekitar 2,99 juta anak kehilangan figur ayah. Selain itu, Survei Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2021 menunjukkan bahwa hanya 37,17% anak usia 0–5 tahun yang diasuh oleh kedua orang tua secara bersamaan.
Fenomena fatherless terjadi karena berbagai faktor. Sebagian ayah harus bekerja jauh dari keluarga sehingga keterlibatan mereka dalam pengasuhan menjadi terbatas. Selain itu, budaya patriarki yang masih berkembang di masyarakat sering kali memandang bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab utama seorang ibu.
Faktor lain seperti perceraian, kematian, serta kurangnya pemahaman tentang pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan turut menjadi penyebab meningkatnya fenomena fatherless. Padahal, keluarga yang ideal terdiri atas ayah, ibu, dan anak yang saling melengkapi peran masing-masing.
Secara umum, seorang anak membutuhkan kehadiran kedua orang tua dalam proses tumbuh kembangnya. Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dan memiliki pengaruh yang besar terhadap perkembangan anak, meskipun pada umumnya ayah menghabiskan waktu yang lebih sedikit bersama anak dibandingkan ibu (Lamb, 2010).
Mengapa peran ayah begitu penting? Ayah cenderung mendorong anak untuk menjadi pribadi yang mandiri, berani menghadapi tantangan, dan tangguh dalam menyelesaikan masalah. Sementara itu, ibu umumnya lebih peka terhadap kondisi emosional anak dan lebih cepat memberikan kenyamanan ketika anak mengalami kesulitan. Kedua peran tersebut saling melengkapi dan dibutuhkan oleh anak.
Ayah juga berperan sebagai role model bagi anak-anaknya. Sosok ayah tidak hanya memberikan kasih sayang, tetapi juga menjadi teladan dalam menunjukkan tanggung jawab, kedisiplinan, kerja keras, dan integritas. Dari ayah, seorang anak belajar memahami realitas kehidupan, menghadapi tantangan, serta membangun karakter yang kuat untuk masa depannya.
Fenomena fatherless dapat memberikan hambatan dalam proses perkembangan anak. Tidak sedikit orang yang mengibaratkan ayah sebagai cinta pertama bagi anak perempuan dan pahlawan bagi anak laki-laki. Ungkapan tersebut muncul karena adanya hubungan yang hangat dan keterlibatan ayah dalam kehidupan anak. Namun, bagaimana dengan anak yang kehilangan sosok ayah sejak dini?
Anak yang kehilangan figur ayah berpotensi mengalami kesulitan dalam membangun kepercayaan diri. Mereka cenderung merasa kurang berharga, menarik diri dari lingkungan sosial, serta mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan orang lain. Ketika kondisi ini berlangsung dalam waktu yang lama, perkembangan sosial dan emosional anak dapat terganggu.
Selain menjadi hambatan dalam perkembangan anak, fatherless juga dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara emosional, psikologis, maupun sosial.
1. Ketidakstabilan Emosional
Ketika seorang anak kehilangan figur ayah, ia berpotensi mengalami ketidakstabilan emosional. Ayah memiliki peran dalam memberikan rasa aman, dukungan emosional, dan kepercayaan diri kepada anak. Ketidakhadiran ayah dapat menimbulkan kekosongan emosional yang sulit diisi serta meningkatkan risiko munculnya kecemasan, kesedihan, hingga depresi.
2. Kurangnya Model Peran Maskulin
Ayah sering menjadi contoh dalam menunjukkan sikap tanggung jawab, kemandirian, keberanian, dan integritas. Ketika sosok tersebut tidak hadir, anak dapat kehilangan figur yang membantu mereka memahami nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
3. Terganggunya Perkembangan Identitas
Anak yang tumbuh tanpa ayah cenderung mengalami kesulitan dalam membangun identitas diri. Ayah berperan dalam membantu anak memahami siapa dirinya dan membangun batasan yang sehat dalam kehidupan sosial. Ketidakhadiran ayah dapat menimbulkan kebingungan identitas, rendahnya harga diri, serta perasaan tidak berharga.
4. Tingginya Risiko Terlibat dalam Perilaku Merugikan
Tanpa kehadiran figur ayah sebagai pembimbing, sebagian anak menjadi lebih rentan mencari perhatian dan pengakuan dari lingkungan luar. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat membuat mereka terjebak dalam pergaulan yang tidak sehat dan perilaku yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.
5. Peningkatan Risiko Menjadi Korban Kekerasan
Anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah juga berpotensi lebih rentan menjadi korban kekerasan, baik fisik maupun emosional. Kurangnya dukungan dan perlindungan dari figur ayah dapat membuat mereka lebih mudah menjadi sasaran perlakuan yang tidak semestinya.
Kehilangan sebuah benda mungkin merupakan hal yang biasa. Namun, bagaimana jika yang hilang adalah sosok yang tidak tergantikan? Tidak semua orang merasakan kehangatan hubungan dengan seorang ayah. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk memahami mereka yang tumbuh tanpa kehadiran figur tersebut.
Ayah sering kali mengungkapkan kasih sayangnya melalui tindakan, bukan sekadar kata-kata. Kepergian sosok ayah dalam keluarga tentu memberikan pengalaman hidup yang berat dan menyakitkan. Namun, bagi sebagian orang, kehilangan tersebut juga menjadi pelajaran hidup yang membentuk ketangguhan. Dari yang sebelumnya memiliki tempat bersandar, mereka belajar untuk berdiri di atas kaki sendiri.
Seiring berjalannya waktu, seseorang dapat belajar menerima dan berdamai dengan kehilangan. Sosok yang disebut sebagai pemimpin keluarga mungkin telah pergi, tetapi nilai-nilai, nasihat, dan semangat yang pernah ditanamkannya akan tetap hidup dalam diri anak-anaknya.
Untuk mengatasi dampak fenomena fatherless, diperlukan dukungan dari berbagai pihak. Kehadiran anggota keluarga lain, seperti ibu, kakek, nenek, paman, atau kerabat dekat dapat menjadi sumber dukungan emosional yang penting bagi anak. Selain itu, sekolah, komunitas, dan lingkungan sosial juga dapat berperan dalam memberikan pendampingan dan ruang tumbuh yang positif.
Di sisi lain, penerimaan diri dan proses penyembuhan emosional juga menjadi langkah penting bagi individu yang mengalami kehilangan figur ayah. Dengan membangun lingkungan yang suportif serta fokus pada pengembangan potensi diri, anak tetap dapat tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan berdaya.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa fatherless merupakan kondisi ketidakhadiran figur ayah dalam kehidupan anak yang dapat berdampak pada perkembangan emosional, sosial, dan psikologis. Fenomena ini bukanlah persoalan sederhana karena peran ayah sangat dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang anak, baik pada masa kanak-kanak maupun remaja.
Artikel ini ditulis bukan sekadar mengikuti tren atau fenomena yang sedang ramai diperbincangkan. Artikel ini merupakan refleksi pengalaman pribadi penulis sekaligus bentuk kepedulian terhadap mereka yang mengalami kondisi serupa. Melalui tulisan ini, penulis berharap dapat memberikan pemahaman bahwa kehilangan figur ayah memang meninggalkan luka, tetapi bukan berarti menghilangkan kesempatan seseorang untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam menganalisis fenomena fatherless, penulis menggunakan Teori Fungsionalisme yang dikemukakan oleh Emile Durkheim, seorang tokoh yang dikenal sebagai Bapak Sosiologi Modern. Fungsionalisme struktural berakar pada sosiologi Emile Durkheim, yang memandang masyarakat sebagai sistem kompleks dengan elemen-elemen saling berkaitan dan berkontribusi pada kelangsungan sosial (Abrahams, 2018; Daniel & Bahari, 2024). Setiap institusi seperti keluarga, pendidikan, dan agama memainkan peran kritis menjaga keteraturan sosial melalui fungsi spesifik (Laluddin, 2016).
Menurut teori ini, keluarga merupakan salah satu institusi sosial yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan masyarakat. Setiap anggota keluarga memiliki peran dan tanggung jawab masing-masing. Ketika salah satu fungsi tersebut tidak berjalan secara optimal, seperti ketidakhadiran ayah dalam keluarga, maka dapat muncul berbagai dampak yang memengaruhi perkembangan individu maupun keseimbangan sosial secara keseluruhan.

Ilustrasi Kondisi Suatu Keluarga
Sumber: Visualisasi Gemini, 2026
Profil Komunitas













