Oleh: Naufal Alghifari – Siswa Kelas Sosioliterasi Gen 6 SMAN 1 Manggar
Editor: Ares Faujian
Generasi Z atau Gen Z adalah kelompok demografis yang lahir sekitar tahun 1997 hingga 2012, setelah Generasi Milenial. Mereka tumbuh di era digital dengan akses luas terhadap teknologi, internet, dan media sosial. Kondisi ini membuat Gen Z lebih melek teknologi, cepat beradaptasi terhadap perubahan, serta terbiasa memperoleh informasi secara instan.
Gen Z juga dikenal memiliki pola pikir kritis, kreatif, dan terbuka terhadap keberagaman. Namun, di balik berbagai kelebihan tersebut, mereka juga menghadapi tantangan berupa tekanan sosial, FOMO (Fear of Missing Out), serta meningkatnya kerentanan terhadap berbagai persoalan kesehatan mental. Dalam kehidupan sehari-hari, mereka cenderung mengutamakan kepraktisan, kecepatan, dan nilai-nilai yang berkaitan dengan identitas diri, lingkungan, serta keberlanjutan.
Salah satu fenomena yang paling sering muncul di era digital saat ini adalah FOMO. Menurut Patrick J. McGinnis (2013), FOMO mencerminkan ketakutan seseorang akan kehilangan kesempatan untuk terlibat dalam momen yang dianggap berharga, sehingga dapat mendorong munculnya perilaku impulsif dan ketidakpuasan terhadap kehidupan yang dijalani. FOMO dicerminkan melalui perasaan cemas atau khawatir ketika seseorang merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau peristiwa yang sedang terjadi, terutama yang dibagikan melalui media sosial.
Gejala FOMO dapat terlihat dari kecemasan berlebihan saat tidak terhubung dengan media sosial, obsesi terhadap unggahan dan aktivitas orang lain, serta keinginan untuk selalu tampak aktif dan terlibat dalam berbagai kegiatan (Elhai et al., 2016). Paparan konten di media sosial juga dapat menciptakan lingkungan yang kurang sehat karena memicu rasa iri, perbandingan sosial, dan ketidakpuasan terhadap diri sendiri. Pengaruh FOMO tidak hanya terlihat dalam dunia hiburan atau media sosial, tetapi juga merambah pada berbagai pilihan gaya hidup, salah satunya kebiasaan merokok.
Di kalangan anak muda, rokok konvensional sejak lama sering dianggap sebagai simbol pergaulan, kedewasaan, dan keberanian. Seiring perkembangan teknologi, muncul rokok elektrik atau vape yang kini semakin populer di kalangan remaja. Vape dianggap lebih modern, memiliki beragam varian rasa, dan sering dipersepsikan lebih aman dibandingkan rokok konvensional, meskipun pada kenyataannya tetap memiliki risiko kesehatan. Keinginan untuk selalu mengikuti perkembangan tren membuat sebagian Gen Z merasa perlu mencoba vape agar tidak dianggap ketinggalan zaman.
Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui Teori Interaksi Simbolik yang dikembangkan oleh George Herbert Mead pada awal abad ke-20. Interaksionisme simbolik berangkat dari asumsi bahwa makna sosial dan struktur sosial dibentuk melalui proses interaksi antarindividu, bukan sebaliknya (Halik, 2024; Carter & Fuller, 2016).
Teori ini menekankan bahwa manusia memberikan makna terhadap simbol, bahasa, dan tindakan melalui proses interaksi sosial. Manusia bertindak terhadap sesuatu berdasarkan makna yang dimiliki objek tersebut bagi mereka, dan makna ini muncul dari interaksi sosial (Puryanto, 2023).
Menurut Mead, identitas diri seseorang terbentuk melalui interaksi dengan orang lain dan simbol-simbol yang berkembang di masyarakat. Dalam konteks ini, rokok maupun vape tidak lagi dipandang sekadar produk konsumsi, melainkan simbol yang dapat dimaknai sebagai gaya hidup, keberanian, atau bentuk penerimaan sosial di lingkungan pergaulan.
Media sosial dan influenser turut mempercepat penyebaran tren tersebut. Konten yang menampilkan aktivitas merokok sering kali dikaitkan dengan citra gaul, estetik, dan kekinian. Akibatnya, sebagian anak muda mencoba rokok atau vape bukan hanya karena rasa ingin tahu, tetapi juga karena tekanan sosial dan keinginan untuk tidak tertinggal dari tren yang berkembang.
Padahal, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik tetap membawa dampak negatif bagi kesehatan. Walaupun rokok elektrik sering dipromosikan sebagai alternatif yang lebih aman, berbagai penelitian menunjukkan bahwa keduanya berpotensi menyebabkan gangguan paru-paru, penyakit jantung, serta ketergantungan psikologis dan fisiologis akibat kandungan nikotin (National Academies of Sciences, Engineering and Medicine, 2018).
Terdapat beberapa faktor yang menyebabkan tren merokok di kalangan Gen Z terus berkembang. Merokok masih dianggap sebagai simbol kedewasaan, keberanian, dan kekinian. Selain itu, sebagian remaja merasa lebih mudah diterima dalam lingkungan pertemanan ketika mengikuti kebiasaan yang sama dengan kelompoknya.
Pengaruh influenser juga menjadi faktor penting. Karena mampu membentuk cara pandang dan perilaku pengikutnya. Kondisi tersebut mendorong sebagian Gen Z untuk mengikuti tren tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya, sehingga memunculkan perilaku yang lebih impulsif.
Fenomena ini tentu menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, guru, maupun pihak berwenang. Berbagai upaya edukasi mengenai bahaya merokok sebenarnya telah dilakukan, tetapi pendekatan yang digunakan ini biasanya kurang sesuai dengan karakteristik dan pola pikir Gen Z. Akibatnya, pesan kesehatan yang disampaikan terasa membosankan dan kurang mampu menarik perhatian mereka.
Menghadapi kondisi tersebut, diperlukan strategi yang lebih kreatif dan relevan untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada generasi muda. Kampanye antirokok dapat dikemas dalam bentuk konten media sosial yang menarik, menggandeng influenser yang memiliki kepedulian terhadap gaya hidup sehat, atau menghadirkan berbagai tantangan positif yang mendorong remaja untuk hidup tanpa rokok. Dengan pendekatan yang lebih dekat dengan dunia mereka, pesan kesehatan dapat diterima dengan lebih baik tanpa terkesan menggurui.
Pada akhirnya, pengaruh FOMO terhadap tren merokok di kalangan Gen Z tidak dapat dipandang sebelah mata. Tantangan yang dihadapi bukan hanya sekadar melarang remaja untuk merokok, melainkan bagaimana menawarkan alternatif gaya hidup yang lebih sehat, menarik, dan relevan dengan kebutuhan mereka. Meskipun merokok sering dianggap sebagai bagian dari tren yang keren dan modern, keduanya tetap menyimpan berbagai risiko kesehatan yang serius. Oleh karena itu, peran orang tua, sekolah, lingkungan sosial, serta kesadaran diri setiap individu menjadi sangat penting untuk mencegah dampak negatif yang dapat menimbulkan penyesalan di kemudian hari.

Gen Z, FOMO dan Tren Merokok
Sumber: Visualisasi ChatGPT, 2026
Profil Komunitas













