Sebuah Pertemuan Literasi di Pulau Belitung
Oleh: Ares Faujian – Ketua Komunitas Belitong Literasi
Ada pertemuan yang awalnya terlihat sederhana, tetapi kemudian membuka pintu percakapan yang jauh lebih luas. Bagi saya, pertemuan dengan dua ahli linguistik dari Jepang ini adalah salah satunya.
Beberapa waktu lalu, saya diminta oleh salah satu sesepuh di Belitung Timur untuk menjadi salah satu referensi belajar Bahasa Melayu Belitong bagi dua akademisi dari Jepang. Keduanya sedang melakukan kajian mengenai Bahasa Melayu Belitong sekaligus melihat kondisi masyarakat multietnis di Pulau Belitung. Mereka adalah Prof. Yoshimi Miyake dari Universitas Akita dan Prof. Atsuko Utsumi dari Universitas Meisei.
Kontak pertama saya dengan Prof. Yoshimi terjadi melalui WhatsApp pada Sabtu, 15 Agustus 2026, sebelum beliau tiba di Pulau Belitung. Percakapan kami segera berkembang menjadi menarik. Bukan hanya membicarakan bahasa, tetapi juga masyarakat.
Kebetulan, saya adalah guru bidang studi sosiologi di SMA. Latar belakang tersebut membuat Prof. Yoshimi tertarik menggali lebih jauh tentang kondisi masyarakat multikultural di Pulau Belitung. Bahasa, bagi kami, ternyata bukan sekadar kumpulan kata dan tata bahasa. Ia berkelindan dengan identitas, sejarah, hubungan sosial, pendidikan, dan kebudayaan masyarakat.
Sebelum bertemu secara langsung, kami juga sempat melakukan video meeting pada Kamis, 20 Agustus 2026. Pertemuan virtual itu menjadi semacam pintu masuk untuk memetakan hal-hal yang akan kami bicarakan ketika bertemu langsung.
Pertemuan yang Melampaui Rencana
Prof. Yoshimi tiba di Belitung pada 19 Agustus 2026, sementara Prof. Atsuko menyusul pada 20 Agustus 2026. Pada Jumat, 21 Agustus 2026, saya akhirnya bertemu dengan mereka di Tanjungpandan secara langsung. Ada satu hal menarik yang saya sampaikan kepada Prof. Yoshimi. Saya ternyata pernah berjumpa dengan beliau sebelumnya di Manggar. Saat itu, sekitar 8 tahun lalu, Prof. Yoshimi datang ke Belitung Timur bersama dua mahasiswanya dan berkunjung ke SMA Negeri 1 Manggar.
Awalnya saya yang mengingat peristiwa tersebut. Prof. Yoshimi kemudian mencoba mengingat kembali dan akhirnya membenarkan bahwa pertemuan itu memang pernah terjadi. Sebuah kebetulan yang menarik, yakni sekitar 8 tahun berlalu, kami dipertemukan kembali dalam konteks yang berbeda. Kali ini untuk membicarakan bahasa dan kebudayaan Melayu Belitong.
Diskusi kami dimulai sekitar pukul 16.30 WIB. Rencananya, pertemuan hanya berlangsung sekitar satu hingga satu setengah jam. Namun, pembicaraan ternyata begitu hidup. Tanpa terasa, waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB.
Empat jam berlalu dalam percakapan yang terasa singkat. Kami membicarakan banyak hal. Mulai dari sosiologi linguistik, masyarakat multikultural Pulau Belitung, Bahasa Melayu Belitong, hingga pendidikan muatan lokal Melayu Belitong. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi pemantik untuk pertemuan berikutnya yang telah direncanakan pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Ketika Orang Jepang Ingin Belajar Bahasa Kita
Saya merasa sangat senang bertemu dengan kedua profesor tersebut. Ada kebanggaan tersendiri ketika melihat bahasa dan kebudayaan Melayu Belitong menjadi objek kajian akademik dari para ilmuwan yang datang jauh-jauh dari Jepang. Namun, pertemuan ini juga menghadirkan sebuah pertanyaan penting bagi saya:
Mengapa orang dari negeri yang jauh ingin mempelajari bahasa kita, sementara sebagian orang Melayu Belitong justru mulai asing dengan bahasa dan budayanya sendiri?
Pertanyaan tersebut tentu tidak sederhana. Ada banyak faktor yang memengaruhinya. Perkawinan antarsuku, pengaruh budaya luar, pola pendidikan keluarga, kondisi orang tua yang tidak selalu mengenalkan bahasa dan budaya lokal kepada anak-anaknya, serta ekosistem daerah yang belum sepenuhnya konsisten mendukung gerakan literasi budaya menjadi beberapa di antaranya, dan masih banyak lagi.
Oleh karena itu, kajian mengenai Bahasa Melayu Belitong harus dilakukan secara berkelanjutan dan mendalam. Bahasa daerah berfungsi sebagai akses menuju khazanah kearifan lokal dan pengetahuan tradisional yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat penuturnya (Okal, 2014; Phyak & De Costa, 2021).
Bahasa bukan hanya alat komunikasi. Bahasa adalah salah satu rumah tempat identitas kebudayaan tinggal. Jika rumah itu tidak dirawat, lama-kelamaan penghuninya pun bisa lupa bahwa mereka pernah memilikinya.
Literasi Budaya di Era Digital
Sebagai Ketua Komunitas Belitong Literasi sekaligus salah satu tim penyusun kurikulum muatan lokal Melayu Bangka Belitung, saya percaya bahwa pelestarian bahasa dan budaya tidak cukup dilakukan melalui ruang-ruang formal. Kita harus hadir di ruang tempat generasi muda hari ini banyak menghabiskan waktunya, yakni ruang digital.
Oleh karenanya, Belitong Literasi mengembangkan media digital melalui belitongliterasi.com serta media sosial @belitongliterasi di Instagram dan TikTok. Media tersebut menjadi salah satu langkah konkret untuk menyosialisasikan, mengedukasi, sekaligus melestarikan bahasa dan budaya Melayu Belitong. Keberadaan media ini juga membuat Prof. Yoshimi ini terkagum.
Gerakan bersama dalam bingkai literasi budaya ini tentu tidak mungkin berjalan sendirian. Kami melibatkan dan akan terus melibatkan banyak orang, terutama para budayawan dan pegiat budaya. Digitalisasi bukan berarti meninggalkan tradisi. Justru teknologi dapat menjadi jembatan agar tradisi tetap memiliki ruang hidup.
Para budayawan perlu difasilitasi agar karya, pemikiran, dan aktivitas mereka dapat dikenal lebih luas. Warganet, termasuk warganet Belitong perlu mengetahui bahwa di daerah ini masih ada orang-orang yang dengan tekun menjaga bahasa dan budaya.
Begitu pula mereka yang ingin belajar Bahasa Melayu Belitong harus dapat menemukan sumber belajar dan mengenal siapa saja yang selama ini merawatnya. Lam et al., (2020) menyebutkan bahwa pembelajaran bahasa warisan memfasilitasi adaptasi bikultural dan retensi budaya di kalangan generasi muda. Pemeliharaan bahasa warisan memfasilitasi “pembelajaran budaya” yang berkontribusi pada identitas etnis yang kuat (Lam et al., 2020).
Sebuah Buku sebagai Penutup
Pertemuan sore hingga malam itu, akhirnya kami tutup dengan sebuah kenang-kenangan sederhana. Saya memberikan buku Jejak Opini Guru Sosiologi kepada Prof. Yoshimi dan Prof. Atsuko. Buku ini merupakan karya bersama teman-teman guru sosiologi di organisasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran Sosiologi Kab. Belitung Timur.
Buku itu bukan sekadar buah tangan. Bagi saya, ia adalah simbol kecil dari sebuah perjumpaan antara pendidikan, sosiologi, bahasa, kebudayaan, dan persahabatan lintas negara. Pertemuan ini mengajarkan satu hal penting, bahwa kebudayaan lokal tidak pernah benar-benar kecil ketika ada orang yang mau mempelajarinya dengan serius.
Bahasa Melayu Belitong mungkin tumbuh di sebuah pulau kecil di tengah Indonesia. Namun, ketika ada akademisi dari Jepang yang datang untuk mempelajarinya, kita kembali diingatkan bahwa setiap bahasa memiliki cerita, pengetahuan, dan identitas yang layak untuk dihargai.
Tugas kita sekarang bukan hanya bangga menjadi orang Belitong. Lebih dari itu, kita perlu mengenal, menggunakan, mengajarkan, mendokumentasikan, dan mewariskan bahasa serta budaya kita kepada generasi berikutnya. Sebab jangan sampai suatu hari nanti, orang dari negeri yang jauh lebih dahulu mengenal bahasa kita, sementara kita sendiri lupa bagaimana menyebut jati diri kita dengan bahasa ibu.
Bahasa Melayu Belitong adalah bagian dari jejak kita. Dan jejak itu harus tetap ada. Mempelajari bahasa dan budaya lokal memberikan manfaat multidimensi yang mencakup penguatan identitas budaya, peningkatan kemampuan kognitif dan linguistik, serta perbaikan kesejahteraan fisik dan mental (Hung et al., 2025; Okal, 2014; Harding et al., 2025).
Sebuah peribahasa Belitong mengatakan: mari membangkitkan batang terendam. Mari membangkitkan budaya yang telah lama hilang. Yuk, kite jage same-same bahase dan budaye Belitong kite.
Salam literasi budaya!

Ares Faujian (Kiri), Profesor Atsuko (Tengah) dan Profesor Yoshimi (Kanan)
Sumber: Dokumentasi Ares Faujian, 2026
Referensi:
- Harding, L., DeCaire, R., Ellis, U., Delaurier-Lyle, K., Schillo, J., & Turin, M. (2025). Language improves health and wellbeing in Indigenous communities: A scoping review. Language and Health. https://doi.org/10.1016/j.laheal.2025.100047
- Hung, D. M., Ngan, V. P. T., & Trang, P. T. (2025). Benefits from Integrating Local Culture into English Classes via Project-Based Learning in Vietnam Context. Forum for Linguistic Studies. https://doi.org/10.30564/fls.v7i10.11220
- Lam, V. L., Chaudry, F. R., Pinder, M., & Sura, T. (2020). British Sikhs in complementary schooling: the role of heritage language proficiency and ‘culture learning’ in ethnic identity and bicultural adaptation. Language and Education, 34, 81 – 96. https://doi.org/10.1080/09500782.2019.1634095
- Okal, B. (2014). Benefits of Multilingualism in Education.. Universal Journal of Educational Research, 2, 223-229. https://doi.org/10.13189/ujer.2014.020304
- Phyak, P., & De Costa, P. I. (2021). Decolonial Struggles in Indigenous Language Education in Neoliberal Times: Identities, Ideologies, and Activism. Journal of Language, Identity & Education, 20, 291 – 295. https://doi.org/10.1080/15348458.2021.1957683
Profil Komunitas













